18 Oktober 2013

Butuh Kejelian Beli Bakalan Murai Batu Muda Hutan


Bakalan adalah sebutan untuk burung muda yang masih belum rajin berkicau, umumnya burung burung muda hasil tangkapan hutan atau dikenal dengan istilah muda hutan (MH). Harga burung bakalan biasanya lebih murah daripada burung setengah jadi atau sudah jadi. Bagaimana cara memilih bakalan murai batu MH, berikut tips ringan yang semoga berguna untuk Anda semua.

Pemilihan bakalan murai batu MH harus jeli, karena tak jarang burung murai hasil tangkapan tersebut diperoleh dari hasil pancingan atau dengan bahan racun yang memiliki efek bius terhadap burung tersebut. So, lebih baik tanyakan kepada penjual mengenai asal mula atau bagaimana cara mendapatkan burung tersebut. 

Terlepas dari jenis dan asal usulnya, pastikan kalau burung murai batu yang hendak dibeli tersebut berkelamin jantan. Bagaimana cara membedakan jantan dan betina, silakan cek Ciri Jantan dan Betina Murai Batu. Secara fisik, burung jantan memiliki tubuh besar dan lebar, ekor panjang dan lebar, kaki panjang dengan sisik sedikit kasar, paruh panjang kokoh dan agak tebal. 

Bulu-bulunya tidak begitu kasar, bulu putih di punggung melebar, sedangkan bulu hitam lebih berkilau (terutama pada batasan antara bulu hitam dan cokelat). Burung betina memiliki ciri sebaliknya, di mana tubuh lebih kecil, kepala kecil dan agak membulat, ekor pendek dan kecil, kaki pendek dengan sisik lebih halus, paruh pendek-tipis dan agak melengkung. 

Bulu putih di punggung lebih sempit, sedangkan bulu hitam di tubuhnya terlihat sedikit kusam, tidak berkilau dan agak keabuabuan, terutama pada batasan bulu hitam dan cokelat.

Membedakan piyik jantan dan betina 

Membedakan jenis kelamin murai batu yang masih piyik sedikit lebih sulit, karena bulu-bulunya belum lengkap atau belum tumbuh secara sempurna. Diperlukan sedikit kejelian, terutama dengan mencermati bintik-bintik cokelat di bagian sayap dan bagian tengah dada. Jika terlihat tanda-tanda tersebut, berarti piyik tersebut jantan.

Jika bagian tengah dadanya berwarna keputihan, sedikit bercampur dengan warna cokelat tipis yang memanjang ke bawah, berarti piyik tersebut betina. Sebenarnya jenis kelamin pada piyik murai batu juga bisa diamati dari postur tubuhnya. 

Jika tubuhnya agak besar dan panjang, piyik tersebut berkelamin jantan. Sebaliknya, jika tubuhnya lebih kecil dan pendek, berarti betina. Persoalannya, untuk membandingkan hal ini mesti ada dua piyik atau lebih. Jika yang diamati hanya satu ekor saja, maka bintik-bintik cokelat di bagian sayap dan bagian tengah dada bisa dijadikan tengara. 

Setelah urusan kelamin selesai, sekarang melakukan pengamatan terhadap kondisi burung, terutama kesehatannya. Burung yang sehat tercermin dari gerakannya yang lincah, sorot mata yang tajam, melotot tidak berair, tidak memiliki cacat pada mata, sayap, kaki, paruh dan bagian tubuh lainnya.

Murai batu akan mengeluarkan suara cetrekan jika didekati atau merasa takut dan curiga dengan situasi sekelilingnya. Nah, jika suara cetrekan terdengar panjang dan kencang, bisa dipastikan burung tersebut akan mampu berkicau dengan lantang dan panjang. Hal ini sekaligus merupakan tengara kalau burung tersebut berkelamin jantan.

Merawat bakalan murai batu

Jika bakalan murai batu yang dibeli merupakan hasil pancingan, ada kemungkinan kailnya masih tertinggal dalam tenggorokan. Kalau hal ini tidak diketahui selama beberapa hari, bagian tubuh tersebut bisa mengalami infeksi yang membuatnya malas makan.

Apabila kondisinya makin parah, tidak mustahil burung akan mati. Jadi berhati-hatilah saat membeli bakalan burung murai, terlebih di lapak-lapak dadakan atau pedagang yang sebelumnya tidak pernah kita kenal. Lain persoalan jika burung tersebut merupakan hasil pikatan jaring dan pulut. Anda bisa langsung masuk ke perawatan bakalan murai batu.

Biasanya bakalan MH belum mengenal makanan buatan manusia (voer). Karena itu, burung perlu dilatih makan voer agar tidak menimbulkan kesulitan di kemudian hari, termasuk ketika pasokan extra fooding seperti kroto di pasaran sedang kosong. Informasi mengenai cara melatih murai batu agar terbiasa dengan makanan buatan manusia (voer).

Dalam perawatannya, burung ini membutuhkan extra fooding (EF) berupa jangkrik, ulat bambu, kroto, dan ikan kecil. Pemberian EF harus rutin (setiap hari), dibarengi dengan pemberian suplemen atau vitamin. Bagi bakalan murai batu MH, menu EF biasa disantapnya saat masih berada di habitat aslinya: hutan. Tetapi suplemen tak pernah diperolehnya dalam bentuk seperti di dalam sangkar / kandang.

Suplemen mempercepat  adaptasi

Tujuan pemberian suplemen ini untuk menjaga daya tahan tubuhnya agar tidak cepat ngedrop karena perubahan pola makan dan jenis makanan yang berbeda antara hutan dan sangkar / kandang. Suplemen juga bisa mencegah burung dari kondisi stres, karena jika sampai stres bisa berakibat fatal: cepat drop, rentan mengalami kelumpuhan mendadak, tidak mau makan atau minum, dan bulu-bulu tubuhnya lebih sering mengembang dengan pandangan mata berair dan sayu.

Vitamin dan mineral memiliki karakter unik. Jika kelebihan akan dikeluarkan dari tubuh (melalui urine), sehingga tidak membawa efek samping. Tetapi jika kekurangan dipastikan akan mengalami defisiensi vitamin dan mineral, dengan beberapa gejala seperti cepat drop, kelumpuhan mendadak, malas makan dan minum, bulu terlihat kusam dan sering mengembang, serta mata sayu dan berair. 

Perlakuan lain yang tak pernah dialami bakalan murai batu MH adalah pengerodongan. Dalam pemeliharaan manusia, pengerodongan sangkar diperlukan agar bakalan murai batu tidak mengalami ketakutan terhadap situasi dan kondisi lingkungan yang baru, sehingga terbebas dari stres. Selama beberapa hari, burung tetap dikerodong setiap hari agar lebih tenang dahulu dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. 

Apabila sudah mulai bisa menyesuaikan dengan lingkungan baru, berarti burung sudah melewati masa kritis. Masa kritis biasanya berlangsung selama 12 hari sejak burung dibeli. Apabila sudah melewati masa kritis, dan sudah mau makan voer (biasanya hingga hari ke-20 atau lebih), maka burung murai batu ini sudah bisa dikatakan “setengah jadi”. Inilah saatnya melakukan proses penjinakan dan pemasterannya.
BACA SELENGKAPNYA...»Â»Butuh Kejelian Beli Bakalan Murai Batu Muda Hutan >

Murai Batu Muda Hutan, Rawatan Tepat Cegah Sekarat


Penghobi burung ocehan khususnya murai batu kian banyak, terutama para pemula yang penasaran untuk memiliki gacoan murai batu. Berbagai upaya hunting burung dilakoni mulai dari mencari murai batu trotolan hasil penangkaran ataupun murai batu tangkapan hutan alias muda hutan (mh). 

Justru yang paling digemari para pendatang baru adalah murai batu muda hutan, selain harga yang ditawarkan relatif lebih terjangkau juga dipercaya murai batu muda hutan memiliki isian variatif dan lebih handal di gantangan.

Memilih murai batu muda hutan tanpa pengetahuan pola rawatan yang tepat, justru akan berusiko kerugian yaitu murai batu jadi sekarat bahkan mati setelah dirawat selama satu atau dua minggu oleh para penghobi baru ini. “Banyak penghobi baru yang salah dalam menangani murai batu bakalan, karena mereka maunya murai batu bakalan bisa cepat bunyi gacor, padahal ada beberapa langkah utama dalam merawat murai batu bakalan,” jelas Om Amir, pengepul murai batu muda hutan di Surabaya. 

Langkah apa saja yang harus dilakoni dalam merawat murai batu muda hutan? Pastikan murai batu bukan hasil pancingan, harus pula dipahami bahwa murai batu rentan stress dan metabolisme terganggu akibat proses penangkapan dari habitat asli dipindahkan ke dalam sangkar. 

Langka awal berikan murai batu makanan yang paling digemari seperti kroto, ulat hongkong, ulat kandang, jangan langsung melatih murai batu muda hutan untuk makan voer pasalnya justru akan membuat murai batu enggan makan karena merasa ada benda asing dicepuk pakannya. 

Pemberian kroto bisa ditaburkan didasar sangkar yang sebelumnya dasar sangkar dilapisi kertas koran untuk menjaga kebersihan, sedangkan pemberian ulat hongkong dan air minum tetap di dalam cepuk besar namun cukup diletakkan di dasar sangkar, hal ini untuk melatih murai batu muda hutan makan di dalam sangkar. Tahap ini biasanya berlangsung dua hingga tiga minggu. 

Apabila murai batu dalam tiga minggu bertahan hidup serta sehat maka langkah selanjutnya baru bisa dijalankan. Hindari pemberian jangkrik untuk murai batu muda hutan karena metabolisme dan sistem pencernaan murai batu muda hutan belum stabil atau lancar. 

Pemberian jangkrik beresiko membuat murai batu muda hutan ‘kelolotan’ dan kesulitan mencerna di dalam pencernaan. Akibat hal itu murai batu akan kesulitan membuang feses akibatnya murai batu akan sakit dan sekarat. Kedua, jangan langsung menjinakan murai batu selama masa recovery. Lakukan upayafull kerodong dan gantangkan di tempat tenang serta jauh dari keramain maupun kegaduhan, lebih baik jika didekatkan sumber air yang mengalir. 

Full kerodong berfungsi untuk menenangkan murai batu di dalam sangkar dan tidak menabrak ruji sangkar. Perawatan full kerodong ini dilakukan selama 1-2 bulan, tergantung mental murai batu. Apabila murai batu muda hutan sudah mulai belajar bunyi atau rajin ngeriwik, kerodong dibuka secara bertahap, sambil pantau kondisi murai batu. Ketiga, hindari dulu mandi dan penjemuran. 

Mengingat kondisi murai batu muda hutan rentan sakit dan stress, untuk mandi berikan cepuk di dalam sangkar tanpa memaksa murai mau mandi. Jika kondisi murai batu fit, secara naluri akan mandi sendiri. Penjemuran cukup diangin-anginkan saja di tempat yang tenang. 

Keempat, setelah kondisi murai batu mulai pulih dan sehat, biasanya ditandai rajin ngeriwik selama dikerodong. Dalam tahap ini murai batu muda hutan mulai bisa dilatih untuk makan voor, namun jatah eksfood kroto dan ulat hongkong tetap disediakan. 

Setelah tahap pengevooran beres, murai batu bisa mulai dilatih makan eksfood jangkrik. Berikan 1e jangkrik ukuran tanggung dan bersihkan kaki-kakinya, porsi jumlah jangkrik bisa ditambahkan setelah dua minggu sambil melihat perkembangan kondisi murai batu. 

Kelima, gantangkan murai batu di tempat yang aman dan nyaman serta perdengarkan natural therapy yang bisa download di omkicau.com. Jangan tergesa-gesa bahkan iseng untuk menggantangkan murai batu muda hutan jika kondisinya belum benar-benar sehat serta mentalnya mapan.
BACA SELENGKAPNYA...»Â»Murai Batu Muda Hutan, Rawatan Tepat Cegah Sekarat >

Pemilihan dan Perawatan Murai Batu Borneo


Murai batu asal Kalimantan (Borneo) sekarang mulai banyak dijumpai di pasaran. Harganya yang lebih murah daripada MB Sumatera membuat sejumlah kicaumania mulai melirik serta ingin memeliharanya di rumah. Umumnya yang ada di pasaran merupakan burung bakalan (muda hutan / MH), dengan kemungkinan besar belum terbiasa makan voer dan hasil pancingan. Berikut ini tips memilih dan merawat murai batu borneo MH.

Sudah bukan rahasia umum lagi, jika ada pedagang yang tidak jujur dengan mengatakan bahwa murai batu yang dijualnya berasal dari Sumatera, padahal jelas hasil tangkapan di hutan-hutan Kalimantan. Tujuannya tidak lain untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya, mengingat persepsi sebagian besar murai mania yang masih memandang sebelah mata MB Borneo

Modus penipuan terkadang sudah mengarah ke tindak kriminal, di mana pedagang dengan tega mencabut bulu putih pada ekor MB Borneo, atau mengecatnya dengan warna hitam, sehingga mengesankan sebagai MB ekor hitam atau black-tailed.Bagi yang belum berpengalaman, pasti mudah terkecoh oleh ulah pedagang nakal tersebut.

Secara fisik, MB Borneo hampir sama dengan MB lainnya (di luar murai kepala putih). Perbedaan terletak pada ekornya, di mana bulu ekor murai Borneo cenderung lurus dan kaku, dengan jarak antara ekor putih dan hitam yang lebih berdekatan. Selain itu, bagian dadanya terlihat lebih gemuk.

Memilih bakalan MB Borneo

Sebagian besar MB Borneo yang ada di pasaran merupakan burung muda hutan (MH), hasil tangkapan dari alam. Beberapa cara dilakukan pemikat murai untuk mendapatkan burung ini di hutan-hutan. Cara yang wajar adalah membuat jebakan dari sangkar, yang disertai dengan meletakkan pakan sebagai umpan.

Begitu MB masuk ke dalam sangkar, pemikat dari kejauhan akan menarik tali sehingga pintu sangkar tertutup. Tetapi ada pula model penangkapan menggunakan alat bantu seperti jaring dan getah / pulut. Bahkan, ada juga cara sadistis, dengan menggunakan mata pancing yang tentu saja melukai bagian tenggorokan burung. 

Tetapi bagi kita, yang bukan pemikat, agak sulit membedakan bagaimana burung ini diperoleh ketika sudah ada di lapak pedagang burung. Kita tidak tahu persis, apakah burung itu hasil penjebakan wajar, pemikatan melalui jaring dan getah, atau hasil pancingan. Untuk membekali Anda yang belum paham, berikut panduan memilih bakalan MB Borneo :
  • Murai batu yang diperoleh melalui jaring atau getah / pulut bisa dikenali dari bulu-bulunya yang cenderung tidak beraturan. Bahkan ada juga beberapa bagian bulu yang hilang atau tercabut. Meski demikian, tidak ada cacat fisik yang berarti, kecuali jika burung itu sejak menetas memang sudah cacat.
  • Murai batu yang diperoleh melalui cara pancingan justru memiliki bulu-bulu yang lebih mulus, karena saat tertangkap tidak terjadi kontak dengan bulu. Kontak terjadi antara mata pancing dan paruh burung, serta berpotensi merusak bagian bawah tenggorokannya, atau bagian kepala di dekat pangkal paruh. Silakan dicek bagian-bagian penting tersebut, sebelum membeli.
  • Jangan terkecoh melihat MB yang selalu diberi makan ulat hongkong oleh pedagangnya, karena burung murai hasil tangkapan hutan cenderung lebih sulit diajari makan voer (bisa membutuhkan waktu lama). Pedagang hanya memberikan ulat hongkong kepada MB untuk mempertahankan hidupnya saat burung belum laku. Kalau memungkinkan, carilah MB yang juga mau diberi campuran kroto dan voer halus, agar kita lebih mudah dalam merawatnya di rumah. Jika tidak memungkinkan, berarti Anda harus bekerja ekstra keras untuk membiasakan MB mau makan voer.
  • Pilihlah burung yang sehat, ditandai dengan kedua sayapnya yang mengempit rapat pada sisi samping tubuhnya hingga ke bagian paha. Burung sehat juga ditandai dengan gerakannya yang lincah, matanya melotot, dan mengikuti arah tangan kita (gerakan waspada). Jangan pilih burung yang terlihat sayu dan mata berair.
  • Untuk suara cetrekannya, pilihlah yang padat dan keras.
Melatih bakalan MB Borneo makan voer 

Hal pertama yang harus Anda lakukan dalam perawatan bakalan MB Borneo adalah membiasakannya mau makan voer. Berikut ini dua metode untuk melatih burung agar mau makan voer :

  1. Campurkan voer lembut dengan kroto, lalu dibasahi dengan sedikit air, dan bagian atasnya ditaburi lagi dengan kroto. Lakukan hal ini selama seminggu atau lebih, hingga burung benar-benar mau makan voer secara total.
  2. Mencampur voer lembut dengan ulat hongkong yang dipotong kecil-kecil, atau bisa juga dicampur dengan potongan perut jangkrik yang juga dipotong kecil-kecil. Kemudian basahi dengan air dan bagian atasnya ditaburi kroto. Berikan selama seminggu atau lebih, hingga burung benar-benar mau makan voer secara total.
Melatih bakalan MB Borneo makan jangkrik

Sewaktu memberikan jangkrik, cobalah masukan 1-2 butir voer ukuran sedang ke dalam bagian tubuh dari jangkrik, kemudian diberikan kepada MB Borneo. Proses ini bisa membutuhkan waktu agak lama. Selama itulah, jangkrik dan kroto harus disiapkan dan selalu tersedia. 

Hampir semua pakar murai selalu menganjurkan pemberian multivitamin pada masa-masa awal murai MH menjalani masa pengenalan terhadap voer dan jangkrik. Multivitamin ini diperlukan untuk menjaga nafsu makannya. Ketika nafsu makan burung masih bagus, maka akan lebih mudah pula baginya untuk dilatih makan voer dan jangkrik.

Multivitamin apa yang paling tepat untuk MB Borneo? Ya apa saja menurut selera Anda, karena di pasaran tersedia berbagai pilihan. Multivitamin sebenarnya dibutuhkan burung secara berkala, misalnya 1-2 kali dalam seminggu. Jadi, tidak hanya untuk burung bakalan yang baru dibeli. 

Selama proses adaptasi, sebaiknya jangan meletakkan sangkar burung di tempat ramai atau banyak suara burung lain yang keras, guna menghindari stres. Karena itulah, dianjurkan melakukan full kerodong pada 1 minggu pertama sejak burung tiba di rumah. 

Setelah itu bisa dibuka sedikit demi sedikit, karena proses adaptasi bisa berlangsung sekitar 2-4 minggu, tergantung perawatan juga kondisi burung itu sendiri. Apabila proses adaptasi selesai, jangan terburu-buru ingin mendengarkan suaranya, apalagi langsung ingin memasternya. Buatlah MB jinak terlebih dulu, karena akan memudahkan Anda dalam perawatan berikutnya.
 
BACA SELENGKAPNYA...»Â»Pemilihan dan Perawatan Murai Batu Borneo >

Penyebab Murai Batu Ngebatman


Berikut adalah ini beberapa penyebab murai batu ngebatman :

1. Over Birahi 
Disebabkan oleh kesalahan pola rawatan, juga kesalahan Perawat yang tidak bisa memantau perkembangan MB tsb. Misal MB tsb dikasih EF yang sama continue terus, dalam kurun waktu tertentu MB tsb mengalami Top Performanya, sementara rate EF tetap konstant. Akhirnya efek EF terakumulasi di MB tsb sehingga MB tsb ngelowo. 

Treatment : 

Diembunkan setiap pagi. 

Kurangi EF, terutama untuk jangkrik. 
Karena jangkrik ini bisa membikin tenaga yang kuat. Kasih jangkrik 1 saja di saat pagi. 

Pemberian Cacing. 
Cacing kalau untuk AM untuk daya tahan telernya. Namun untuk MB justru untuk MEREDAM birahinya. Pemberian cukup disesuaikan dengan karakter MB. Diberikan setiap pagi dan sore. 

Stop EF Sama Sekali. 
Saya pernah punya mb yg menunjukkan gejala ngelowo / ngebatman, langsung saya stop ef sama sekali kira kira satu bulan. Dan berhasil. Sepertinya mb saya kebanyakan ef. 

Kandang Umbaran. 
Bagi MB nglowo, Kandang Umbaran adalah wajib. Jangan lupa dikasih tempat bak mandi, biar mandi sendiri. 1 hari wajib dikandang umbaran, agar sifat birahinya dikeluarkan semua dan kalau bisa diterbangkan minimal 200 kali selama sehari. Alangkah baiknya si MB di umbar di kandang umbaran dan di simpan di luar (tdk tertutup). Sehingga setiap pagi terkena embun. 

Kurangi EF hariannya yg biasanya pagi/sore 3 jangkrik jadi 1 jangkrik. Kroto yg biasanya seminggu 3 kali 1 sendok menjadi seminggu sekali 1 sendok. Kalau biasanya pagi jemur 2 jam + sore jemur 1 jam menjadi cukup pagi jemur 1 jam. 

Mandi malam antara jam 8 s/d 10 malam, angin2kan kurang lebih 1/2 jam langsung krodong. Dan saat akan latihan/lomba hari minggu hari sabtunya pagi kasih EF 5 s/d 7 jangkrik dan tidak usah dimandikan. Pada saat latihan/lomba di hari minggunya sekitar 20 menit sebelum di gantang diseprot jangan terlalu basah langsung kerodong. 

Jangan dimandikan dihari H-1 dan hari H. Saya dulu punya jagoan yg dibeli pada kondisi mabung. Setelah kelar mabung dan 2 bulan nuain bulu sambil dilatih, namun ketika dibawa ke latber langsung ngebatman. Penasaran 2 minggu jajal lagi tdk ada perubahan. 

Setelah kurang lebih ada 3 bulan dicoba cari solusinya dan dari berbagai percobaan yang saya praktekkan ternyata saya temukan maunya ni MB. Ternyata dia dihari h-1 dan hari h ga boleh mandi. Kalau mandi pasti kumat ngebatmannya. 

2. Kalah Mental/Down 
MB ngelowo bisa disebabkan MB yg masih muda tapi dipaksakan untuk tarung. Karena sebenarnya MB mengenal sistem Senioritas. 

3. MB yang Sedang Dorong Ekor (belum tuntas mabung) di Trek dengan MB yang Mentalnya OK 
MB yang sedang dorong ekor/belum tuntas mabung jika di trek dengan MB yang mentalnya OK bisa menimbulkan sifat ngelowo. Pada awalnya MB yang belum tuntas mabung mungkin mau main ngeplay dan mengeluarkan semua isiannya. Tapi setelah itu langsung ngebatman dan bulunya juga ikut berdiri (seperti kacer bagong). Intinya, jangan pernah memaksakan MB yang belum tuntas dorong ekornya untuk ditrek. Hal ini akan menyebabkan MB ngelowo. Karena kita kurang sabar dan terlalu memaksakan diri, akhirnya MB kesayangan yang jadi korban. 

4. MB yang Baru Selesai Mabung 
MB2 yang baru kelar mabung memang suka galak. Sementara kondisi fisik belum siap 100 % dan libido/ birahinya belum naik (ditandai dgn gacor tanpa musuh). Nah kalo dipaksakan biasanya suka ngelowo. 

5. MB yang Terlalu Dipaksakan untuk Terus Fight 
Pada saat titik top formnya mulai menurun (mendekati masa mabung) sering kita "sengaja" ngetrek MB yg mulai jatuh bulu dengan harapan agar proses rontok menjadi lebih cepat & ternyata "memang banyak" yg berhasil. Tapi apa pernah kita perhatikan, efeknya disaat mabung atau setelah mabung? Hal-hal yang demikian juga akan menyebabkan MB menjadi tidak/sulit mencapai top form lagi, atau malahan jadi Batman.
BACA SELENGKAPNYA...»Â»Penyebab Murai Batu Ngebatman >

Tips & Trik Mengatasi Burung Murai Ngelowo Atau Ngebatman

 

Ngebatman atau ngelowo adalah kebiasaan murai batu yang suka mengepakan sayap dan berkicau kecil sambil turun ke dasar sangkar, ini adalah kebiasaan yang tidak disukai oleh para kicau mania apalagi ini terjadi pada saat berlangsung lomba ini akan mendapatkan nilai yang rendah. 

Sampai sekarang belum ada yang tau apa yang menyebabkan kebiasaan yang di lakukan burung murai ini, tapi berikut ini akan saya sampaikan tips dan trik untuk mengatasi terjadinya kebiasaan murai ini yani ngelowo berikut ini adalah tips dan triknya :

Ada beberapa penyebab kenapa burung murai sering ngelowo/ngebatman berikut ini adalah berbagai faktor antara lainya :
  1. Di karenakan burung kemungkinan masih belum sempurna betul menyelesaikan masa berganti bulunya atau di enal dengan mabung.
  2. Di karenakan akibat burung baru saja menyelesaikan mabung dan langsung di terjunkan ke lomba.
  3. Di karenakan burung belum mempunyai mental yang kuat.
  4. Di karenakan burung terlalu sering di jemur
  5. Di karenakan memang mempunyai mental yang tidak bagus
Pencegahan kebiasaan Ngelowo atau Ngebatman
  1. Apa bila burung baru saja mengalami masa mabung sebaiknya jangan terlalu memaksakan untuk mengikutkan lomba
  2. Kurangilah waktu penjemuran jika misalnya seminggu 5 kali lakukan lah seminggu 3 kali
  3. Lakukan pemnadian pada malam hari pada burung murai
  4. Kurangi pemberian porsi jangkirk
  5. Setiap pagi dan sore berikan cacing tanah ini karena cacing tanah bisa mencegah OB
  6. Jangan berikian tangkringan yang terlalu banyak
  7. Hindari memaksa burung untuk ikut lomba karena belum sempurna masa mabungya
  8. Jangan memaksakan burung murai yang masih belum siap mentalnya atau masih muda untuk ikut lomba
  9. Sebelum anda membawa burung ke tempat lomba sebaiknya selang satu hari sebelumnya berkian jangkrik 5 sampai 7 ekor tapi burung jangan di mandikan dulu setelah tiba pada hari H nya lakukan penyemprotan pada burung 30 menit sebelumnya tapi jangan terlalu basah lalu kerodong dan apila sudah siap lomba baru di gantung kenomer uruatan lomba. 
Demikian tadi sedikit informasi yang saya dapat sampaikan mengenai cara mengenali gejala Ngelowo atau Ngebatman pada burung murai dan cara mencegahnya mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi para kicau mania semua.
BACA SELENGKAPNYA...»Â»Tips & Trik Mengatasi Burung Murai Ngelowo Atau Ngebatman >
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...